Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Desember 2015

Cerita Kontribusi "INDAHNYA NEGRIKU"

Ini cerita yang kutulis dalam rangka mengikuti tugas menulis di sebuah group  facebook milik penerbitan indie. Owner sekaligus adminnya masih muda banget, tapi keren udah bisa bikin usaha macam begini. Setiap hari selasa diadakan kelas menulis cerita dan hari rabunya kelas menulis puisi. Nah, tulisanku ini dibikin setelah mengikuti materi di kelas menulis cerita. Kalau penasaran langsung aja cek di www.nauvabook.com.


INDAHNYA NEGERIKU

Setiap kali duduk bersandar pada pohon. Memandang lautan padi yang menghijau dari atas bukit ini. Rasanya jiwaku sedang beranak. Alam begitu besar. Begitu berkuasa. Manusia kerdil seketika. Sejauh mata memandang hanya sawah yang terhampar. Manusia hanyalah noda. Jauh di ujung-ujung pandang, pohon berbaris. Kokoh menjadi pagar-pagar lereng perbukitan yang kian meninggi. Menopang gunung. Mencengkeram batu-batu besar yang dikandungnya.
Dari sini, jika kau mau tengadah sedikit saja. Awan-awan seputih kapas berterbangan ringan. Membentuk mimpi-mimpinya bersama langit. Berdialog tentang cuaca bersama warna, kecepatan angin, dan massanya sendiri. Burung menggagahi angin. Mengejar langit yang tak pernah lelah di ketiggian. Bersuka mengirim pesan cuaca. Atau sekedar berpesta manakala fajar berkelana dan senja menampakkan wajahnya.
Setiap kali aku duduk di sini, aku tak lagi merasa perlu mengangkuhi Semeru. Berdiri di atas awan setelah mempersembahkan nyawa pada maut. Pulang meninggalkan bungkus-bungkus mie instan yang beralih tugas membungkus lereng Semeru. Atau memercik api sebab perapian tak benar-benar padam.
Jika ingin berdiri di atas awan kemarilah. Datang ke bukit ini setelah subuh saat kabut jatuh mencium bumi. Berdirilah di sini, tatap ke timur. Matahari hanya seperti lampu neon di kejauhan. Matamu tak akan sakit melihatnya. Diamlah di sini, tunggu matahari merangkak sedikit lagi. Ketika matahari mulai merona malu pada angkasa. Kau akan melihat lautan awan menutup padi yang baru tumbuh. Kabut menggeliat malas di kakimu. Perlahan, dia akan terbang seiring matahari yang semakin berani. Dingin yang sedari subuh tadi kau rasakan berganti rasa hangat. Bahkan hangatnya bisa kau seduh jadi penyemangatmu hari ini.
Di sini, jiwaku serasa terlahir lagi, lagi, dan lagi. Maka, kemarilah jika kau pun ingin jiwa-jiwa baru yang segar. Jiwa-jiwa penuh syukur yang memuji keindahan semesta. Jiwa-jiwa yang mengerti betapa kecilnya manusia. Betapa tak sebandingnya keinginan manusia dan perjalanan sang alam. Di sinilah tempatnya. Di atas bukit kecil yang ditumbuhi belukar dan pohon-pohon tua. Dikelilingi hamparan sawah yang dihuni padi, kala musim hujan begini. Dipagari pohon-pohon yang barangkali hutan, barangkali kebun liar, di kejauhan sana. Di seberang sawah, rumah-rumah begitu pipih tergenjet hijau yang menganga. Ditangkup barisan bukit yang kian tinggi membentuk gugusan pegunungan membiru saking jauhnya.
Tak perlu menyiapkan bekal sepenuh carrier sekian liter lengkap dengan matras, jaket, dan sepatu yang tidak murah-sebab bagus kualitasnya. Tak perlu mengusung tenda dalam mobil off road dan persedian bahan bakar minyak-sebab takut kehabisan di tengah hutan. Tak perlu pula bayar-di sini bahkan tak ada kawanan amarillis yang bisa diinjak-injak. Tak perlu membawa bekal. Jika lapar petik saja mangganya, itu pun kalau berbuah. Jika haus, di dekat sini ada sumber air. Atau, bisa minum di sumur-sumur sawah. Tidak kira mati, sebab airnya tak beracun. Petani-petani di sini sudah membuktikannya. Jadi, jangan banyak tingkah dengan mengatakan air ini tidak higienis. Toh, mie instan yang kau bawa-bawa manakala naik gunung lebih beresiko untuk kesehatanmu.
Disinilah tempatnya, sayang. Tempat yang enggan didekati orang manakala malam merentangkan selendangnya. Sebab jangkrik akan bernyanyi bersama belalang, katak, desau angin, dan patah-patah ranting. Saat seperti itu, bintang bersorak senang. Cahayanya yang butuh ribuan tahun cahaya untuk sampai akhirnya tiba di bumi. Rembulan tak selalu bundar. Bayang-bayang bumi selalu ingin menang. Wajahnya bahkan masih pula dilukai awan yang tak mau menyibak. Terkadang sekelebat bayangan putih atau pijar bola api lewat. Terkadang ada pula suara cekikikan di atas dahan atau tangis tertahan di antara semak.
Jadi, bukankah di sinilah tempat yang paling tepat untukmu berpetualang? Tadabbur? Ngetrip? Adu nyali? Apapun kau menamainya. Mengapa kau harus berjalan kaki ribuan meter menanjak? Padahal, di tengah kota kau tak tahan tanpa berkendara meski itu hanya sepelemparan bola. Mengapa kau mati-matian mengganjal perut dengan mie instan? Padahal, di tengah kota kau coba semua makanan. Mengapa kau harus sisakan banyak waktu demi sekelumit kebanggaan? Di rumah ayah-ibumu resah menunggu anaknya pulang.
Kau berkali-kali tersenyum manakala aku mencecarmu dengan pertanyaan dan pernyataan. Senyum yang lebih manis daripada senyum hasil jepretan DSLR yang terpajang di instagrammu. Katamu, baru kini kau tahu aku begitu anti ngetrip dan lucunya kau malah suka. Dua tahun kita berteman, bersayang-sayang, begitu aneh kau baru merasakan. Jadi, selama ini sindiranku terlalu halus hingga kau sangka pujiankah? Katamu, amarahku baru nampak setelah tiga kucing hutan itu tanpa dosa disantap seorang gadis yang juga berstatus mahasiswa. Lebih nampak lagi ketika kebun bunga amarillis yang ingin kukunjungi esoknya telah ludes diinjak-injak manusia otak dangkal.
Jadi, ketika setahun lalu kutandaskan mengundangmu untuk berkunjung ke bukit ini seorang diri. Kuingatkan pula agar kau tidak lupa membawa tasbih dan sajadah.  Malah kau mengira aku mengadu nyalimu dengan lelembut? Kau termasuk manusia otak dangkal itu atau aku yang memang tak pandai mengungkap rasa? Baiklah, sekali lagi akan kuceritakan padamu. Sekarang. Sebab sudah kubilang hanya di sini jiwaku beranak. Di sini aku dapat mencumbui semua emosi. Semoga kali ini kau bisa mengenalku dengan benar.
Waktu itu aku mengundangmu, sebab kau bilang akan bolos kuliah 3 hari demi naik gunung merapi yang angker itu. Kau ingin menahlukan sombongnya merapi yang bergoyang-goyang menakuti semua orang. Juga sifatnya yang sok misterius hingga melahirkan dongeng mak lampir yang tak berkesudahan. Dari pada kau ke sana mempersembahkan nyawa yang hanya dibayar banggamu sendiri tanpa memikirkan perasaan orangtuamu, lebih baik kau datang ke bukit ini. Bukit ini tak kalah angker dengan merapi, makanya tak ada yang berani mengeruknya. Kata orang-orang, hanya hati yang tak mengharap apa-apa yang akan selamat. Sudah banyak cerita orang tersesat di bukit kecil ini karena menyimpan niat jahat. Satu, dua bahkan mati tanpa sebab. Untuk itu aku berbangga diri, sebab ratusan kali melamun di sini tak pernah kesurupan apalagi sampai tersesat. Apa sekarang kau sudah mulai merinding?
Di dekat bukit ini, ada sumur tua yang kering. Entah dongeng entah nyata, sumur itu katanya sarang ular-ular sawah. Kala malam, ular-ular sebesar lengan keluar dari sana. Jumlahnya puluhan. Bukit ini jadi salah satu tujuannya mencari santap malam. Belum lagi nyamuk-nyamuk subur seperti yang saat ini mengelilingi kita-untung pakai lotion anti nyamuk. Lalu orang-orang berhati jahat yang kuceritakan barusan. Jika dia tersesat di sini, dia panik, mungkin saja tak segan mengancam dan membunuh lawannya. Mungkin kau akan jadi daftar mayat mengenaskan berikutnya yang ditemukan di sini. Kisah yang seperti ini sudah pernah terjadi. Semua itu adalah unsur horor yang ingin kau cari, bukan?
Jika yang kau cari keindahan alam, maka itu sudah terpampang jelas di depan mata kita sekarang. Tak usah kau sangkal lagi. Sudah kuceritakan di awal. Sudah kau saksikan sedari tadi. Tadi, sewaktu baru datang aku sempat melihat mulutmu menganga. Itulah sebabnya aku ingin kau datang membawa sajadah dan tasbih. Di tempat indah, horor, sekaligus misterius ini aku ingin kau berdzikir. Berserah pada Tuhan atas segala kemungkinan. Bersyukur pada Tuhan atas segala keindahan. Hanya terkagum pada Tuhan yang dapat menciptakan semua hal bersamaan. Kita yang selalu merasa berkuasa atas alam, ternyata hanyalah manusia lemah yang misa di shut down Tuhan kapan saja.
Berhubung kita masih akan lama duduk di sini kuceritakan satu kisah menarik lagi. Mungkin kau akan menganga lagi atau malah mengira aku mengarang. Jika pun ini karangan, sumpah bukan aku yang mengarang. Ceritaku kali ini tentang budaya masyarakat yang bertahan hingga kini. Hal ini juga menjadi alasanmu memutari negri ini, bukan?
Lihatlah gunung membiru di kejauhan sana. Gunung yang tadi kubilang menangkup wilayah ini. Amatilah gunung itu, mumpung cuaca hari ini terang seperti ini. Nanti, kau akan temui bentuk seperti seorang perempuan tidur telentang. Kepalanya di selatan, kakinya di utara. Puncak-puncak gunungnya seperti diukir membentuk siluet dahi, hidung yang amat mancung, dan dagu lancip mempesona. Rambutnya seolah diurai. Semuanya terlihat begitu detail. Bahkan, payudaranya berjajar sama besar. Tapi, percayalah siluet itu tidak diukir dengan peralatan pak tukang yang membangun rumah kita. Bukan para seniman pahat dari Bali. Bukan pula pengukir wajah presiden di gunung Rushmore, Amerika Serikat.
Siluet itu diukir oleh sebuah dongeng yang diawali kata “Pada zaman dahulu kala,”. Tak pernah ada yang tahu kapan dahulu kala yang dimaksudkan. Sejauh ini tak ada sejarahwan yang mengklaim kisah ini tertulis di sebuah lontar tua atau prasasti yang terpendam ribuan tahun lamanya.
Beginilah kelanjutan kisah yang bermula “Pada zaman dahulu kala,” itu. Seorang gadis desa tumbuh semakin cantik. Cantik yang begitu asri sebab, kala itu tentu belum ada kosmetik Cina, apalagi operasi plastik Korea. Gadis desa yang begitu murni sebab belum mengenal cinta. Kala itu belum ada sinetron dari TV yang bisa ditiru anak-anak belum nalar. Gadis desa yang begitu lugu, sebab kala itu belum ada yang mengajarinya gerakan feminisme. Gadis desa yang barangkali hanya dapat mengerti, kelak jika umurnya sudah empat belas tahun harus menikah. Tanpa tahu menikah itu untuk apa.
Bunga yang mekar selalu menarik perhatian, begitu pun gadis ini. Cerita klise pun terulang. Para jejaka datang berebut. Di antaranya adalah jejaka-jejaka otak dangkal. Mereka tak mau kalah antrian. Mereka hanya mau tahu harumnya bunga yang sedang mekar. Menghirup dalam-dalam aromanya meski harus mencabut dari tangkai. Layu dan mati setelahnya bukanlah sebuah urusan besar. Baginya yang terpenting hasratnya telah tercapai. Aroma bunga akan dikenangnya sebagai hasil petualangan yang membanggakan. Gadis itu benar-benar layu. Harapan hidupnya kandas. Dia berlari ke puncak gunung. Menangis hingga ajal menjemput. Semesta ingin mengenangnya. Perlahan-lahan bukit itu terbentuk sedemikian rupa. Gadis malang itu diingat dalam dongeng. Andai saja para petualang mengerti yang dimaksudkannya.
Kau tersenyum getir. Katamu “Jadi kau tak suka, ketika aku turun dari Merapi membawa anggrek hidup untukmu?”
“Ya.”
“Lalu, kenapa kau terima?”
“Kasihan jika anggrek itu mati. Setelah anggrek itu tumbuh subur sekali, akan kutanam di sini.”
“Bukannya sudah beranak?”
“Memang. Tapi, terlalu kecil dan badannya belum gemuk.”
“Jadi, jika kamu begiu mencintai bukit ini, negri ini, kenapa kamu begitu ingin ke Inggris?”
Aku tersenyum puas. Kau menanyakan pertanyaan yang kutunggu-tunggu. Coba, seberangilah mataku. Mengapa aku begitu ingin ke sana? Tak bisakah kau tebak?
Inggris negri yang begitu wibawa di mataku. Gedung-gedungnya menjulang dibangun dengan tembok tebal nan kokoh. Negara yang begitu lama bertahan dalam kuasa. Namun, masih menyimpan arti bertatakrama. Bahasanya digunakan di seluruh dunia. Pendidikannya diantri jutaan calon pelajar. Masa telah berganti, namun negri ini bertahan dipimpin oleh raja dan ratunya. Banyak tempat wisata yang menghijau. Sejuk dipandang mata. Banyak museum, semua sejarah dan legenda disimpan di sana.
Di sana aku ingin menguji cinta. Aku percaya negriku adalah hal terindah yang kupunya. Negri terkaya. Bahkan, tanpa bekerja pun aku bisa makan. Tinggal kusiram tanaman-tanaman setiap hari. Kupelihara ternak. Lalu tanaman dan ternak kuberi makan silang. Aku tak perlu melihat pemimpin yang mulai goyah karena ujian harta. Aku hanya perlu melihat para petaninya, nelayannya, budayawannya, dan orang-orang yang masih percaya negri ini bisa dibanggakan serta tetap sekaya dahulu. Lalu, cinta ini akan membuatku yang ada di sana merindu bumiku, bukitku. Aku pun akan menggumamkan lagu puji-pujian untuk negriku, biarlah mereka tak mengerti mengapa aku masih cinta negri penuh drama ini. Air mataku akan meleleh dan aku tak kuasa menahan pulang, biarlah mereka mengira aku bodoh mau kembali ke negri yang serba sulit ini. Keindahan negri lain tak mampu membendung cinta pada negriku sendiri. Aku percaya, di sinilah rumahku. Maka, ketika rindu tak mampu kutampung. Aku segera pulang, sebab tak akan tahan berenang dalam tanya, “Masihka bukitku kokoh berdiri?”
Lihatlah! Di kejauhan sana bukit itu tinggal separuh, yang separuh sudah diangkut truk untuk sekedar dijadikan tanah urug. Beberapa sudah lenyap menjadi sawah. Ketika tidak cukup, mereka mulai merangkak ke lereng gunung. Merobohkan pohonnya. Mengeruk bukitnya. Menggulingkan batunya. Mereka melakukannya sambil berkata “Demi masa depan yang lebih baik, pembangunan akan terus dilakukan.”
Kau sekali lagi tertawa getir. Aku tahu, di hatimu, kau menilai negeri ini sudah sangat miris keadaannya. Oleh sebab itu, kau mendaki ke sana- ke mari mencari kebenaran. Mencari Tuhan. Mencari keindahan yang tersisa dari negeri ini untuk kau cintai. Tapi, terkadang kau lupa. Kau terlalu narsis dan hanya ingin memuaskan ego sendiri. Bersama teman-teman sekelompokmu sebenarnya. Kau bawa-bawa bendera. Kau kibarkan di setiap puncaknya. Kau bawa sajadah kau sujud di setiap tempatnya. Padahal negeri ini hanya ingin kau menjadi generasi yang benar. Tentu negeri ini tak hendak menjadikan orang yang hanya dapat keluyuran tapi tak pintar untuk dijadikan pemimpinnya. Padahal Tuhan tak minta kau sujud di sana. Tuhan ingin kau sujud di rumah-Nya. Berbuat baik sebanyak-banyaknya. Bukan mendekatkan diri pada bahaya.
Aku tahu, bahkan aku tak lebih baik darimu. Hanya, aku ingin sekali saja menumpahkan caraku mencintai. Aku hanya ingin kau menemaniku mencintai negeri ini dengan sederhana. Lalu kita berdua akan menyanyikan lagunya Gombloh dari bukit sekencang-kencangnya:

“Lestari alamku, lestari desaku
Di mana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa”

Jember, 05 Desember 2015
Dari kamar suara jangkrik bersahutan dengan
sholawat dan deru motor yang sesekali lewat.
 


Sabtu, 05 Desember 2015

AWAL BERAKHIR



Bagaimana cara yang benar untuk mengawali sebuah cerita? Dia tak pernah tahu bagaimana caranya. Seperti dia tidak pernah tahu bagaimana mengawali sebuah cinta. Baginya tidak ada cerita bermula dari satu titik, karena semua titik itu bias. Semuanya adalah bagian dari titik lain. Titik yang hanya diketahui Tuhan, jika Tuhan itu ada. Dan dia mulai meragukan keberadaannya, karena semuanya sekarang hampa.
Bagaimana cinta? Perasaan itu, sebenarnya yang benar bagaimana? Sesuatu yang disebut cinta itu, dinamainya ganjil. Perasaan yang tak berketentuan, tak beralasan, tak bertujuan, dan tak berlogika. Begitulah dia selalu berpikir asal muasal cinta. Kedatangan yang tidak pernah diketahui muncul dan menyelinap dalam perasaan.
“Perasaan katanya letaknya di hati. Bukankah hati itu organ tubuh yang secara kasar dapat diartikan penyaring racun dalam tubuh itu sendiri. Bagaimana dia bisa dituduh sebagi yang paling bertanggungjawab atas semua itu?” Dia membalikkan badannya lagi. Tak hanya cetakan bulat dan basah di bantalnya. Sekarang bantal itu telah basah separuhnya. Berlembar-lembar tissu telah terpakai, mengoggok di sekitar tempat sampah ruangan di pojok kamar. Lemparan yang tidak tepat sasaran. Tapi, dia tidak bertenaga untuk membereskannya. Siapa sangka kekasihnya dulu pernah memberikan julukan panjang “Putri mungil keturunan manusia setengah dewa kebersihan pangkal dari segalanya”.
“Sekarang aku tak sebersih itu lagi. Aku tak tahu menamainya. Keruh sekali. Aku..., bagaimana...aku membersihkannya?” Lalu air matanya tumpah lagi, kali ini keluar bersama ingus yang langsung tertampung tissu yang tinggal beberapa lembar.
Malang. Sungguh malang nian. Kesedihan itu tak terperi. Yang membuatnya semakin pilu adalah ketakutannya. Dia tak tahu mengapa. Tapi Rio tiba-tiba menjadi sosok yang menakutkan. Seperti semua kesedihan karena dia, berawal darinya. Padahal dia tak tahu letak awal atau letak akhir. Bukannya hubungan itu juga belum berakhir dan tak pernah berawal.
Manis itu telah dirasa sejak semula, bukan sejak Rio mengatakan “Maukah kamu jadi pacarku?” Di puncak bromo pada liburan semester awal mereka. Entah sejak kapan bersama dengan Rio menjadi momen terindah. Dunia adalah keindahan.  Dunia diciptakan untuk keindahan yang membahagiakan. Memberi warna cerah dan semangat untuk hidup. Bromo, Bromo sangat indah. Tak ada yang tak mungkin, kala itu dia merasa dapat mencapai segalanya. Tapi bukankah sebelum kejadian itu dia juga bahagia? Dia pernah menghabiskan waktu bersama Rio di kawah Ijen, bermain seharian di Waterboom, nekat tiga hari liburan ke Bali naik motor, atau sekedar jalan-jalan di malam minggu menyaksikan sandiwara kehidupan.
Akh...betapa sekarang ini semua itu terasa amat menjengkelkannya. Semua kenangan sebelum kata cinta dikeluarkan telah menghabisi keberaniannya untuk mengingat ‘masa_jadian’  begitu orang menyebutnya. Dia tidak tahu bagaimana kesedihan bisa membuat dadanya begitu sesak. Megap-megap. Memeluk lutut sambil memegang dada. Rasanya ada yang terlepas di sana. Ada organ tubuhnya yang putus dan harus disambung, atau retak sehingga harus dilem. Dia merasa adegan itu lebih mirip orang yang sedang overdosis karena narkotika. Entahlah, entah kenapa pikirannya begitu rumit. Segalanya menjadi rancu di sana. Semuanya terlintas begitu saja. Tak bisa dikendalikan. Lalu mau apalagi? Mungkin dia menyerah. Tapi sekarang dia bangkit, bukan untuk mulai beranjak dari pilu melainkan berjalan sempoyongan ke arah almari persediaan. Mengambil satu roll tissu baru.
Sebelumnya dia tak percaya tingkah semacam ini bisa terjadi. Baginya itu terlalu khayal. Hanya imajinasi perfilman yang cari sensasi. Atau prosa yang cari perhatian pembaca. Cerita lebay. Cerita melankolis tingkat peri. Tapi sekarang dia tak menyangkalanya. Dia hanya ingin tahu letak awal, bagaimana itu sebuah awal. Seperti apa bentuk awal, karena dia harus menemukan akhir. Dia menginkan akhir. Jika memang awal dan akhir benar-benar ada.
Menurut kesepakatan masyarakat. Kalimat yang diucapkan Rio di depan kosku pada malam gerimis itu yang berbunyi  “Mungkin memang lebih baik kita putus. Kamu bisa cari cowo’ yang lebih baik dari aku. Kamu telah membuat aku menyadari bahwa Liana memang lebih baik dari kamu. Kamu membuatku tidak bisa menjauhinya lagi. Inikan yang kamu mau?”. Itu adalah akhir, akhir dari ‘masa­_jadian’. Tapi dia merasa itu bukan akhir. Ketika itu Rio mengatakan dengan mata lelah, wajahnya sayu. Dia yakin ada kegetiran di sana. Ada perasaan sakit yang tak bisa disembunyikan. Tapi mengapa dia memilih kalimat itu. Bukankah dia juga mengatakan masih mencintaiku? Berarti itu bukan akhir, tapi kenapa justru Liana teman sekelas Rio yang baru dikenal sebulan lalu? Lima tahun Rio mengenalnya dan itu belum cukup. Akh, kenapa dia harus kasihan pada Liana. Meminta Rio untuk tidak melukai perasaannya, padahal sekarang justru dia yang merasa terluka.
Kenyataannya itu bukanlah akhir, ya itu bukan sebuah akhir. Rio masih mengunjunginya, masih berkabar, masih menggunakan barang pemberiannya. Sama seperti dia yang masih memajang foto Rio di kamarnya dan di dompetnya. Lalu apakah itu sebuah akhir? Dia tak percaya itu akhir. Sebenarnya mungkin awal dan akhir tak pernah ada. Mungkin pula ada, tapi tak pernah berhasil diketahuinya. Perasaan cinta pasti menyusup perlahan dinamakannya suka, semakin dalam diubah sebutannya jadi sayang, dan ketika semakin dalam lagi dia menamainya cinta.
“Jadi cinta itu sangat indah bukan? Perasaan itu membuat kita seakan menjadi aktor utama dalam film Bollywood yang diiringi ratusan penari. Bunga-bunga bertaburan dari angkasa. Paving beton berubah jadi karpet merah kepresidenan. Jangan-jangan naik odong-odong serasa naik kereta kencana!” begitu Noona memetaforakan cinta saat sahabatnya jatuh cinta pada salah satu anggota kepolisian yang masih muda.
Tapi semua itu tetap tak menghibur. Dia merasa terlalu hampa. Dia takut. Dia kecewa. Dia menyesal telah mengenal iblis laknat. Jahannam. Jahannam. Fuck. Kampret. Tak tahu diri. Laki-laki buaya. Dia ingin mengkoyak tubuh Rio yang telah membuat perasaan seganjil demikian. Rio membuatnya yang tak pernah mudah percaya menjadi percaya sepenuhnya. Rio membuatnya yang tak pernah mau mendalami rasa menjadi berkorban sedemikian. Tapi begini balasannya. Gak punya moral. Cinta dan benci tipis bedanya. Sama-sama gak berawal dan tidak diketahui dimana akhirnya. Atau hanya dia saja yang tak mengetahuinya?
Bagaimana kemudian dia harus menghadapi ini? Sebenci-bencinya dengan Rio dia masih menyimpan perasaan yang sama. Masih menyanyanginya, masih ingin menyenangkannya. Dia dapat mengolok-olok Rio tapi tak dapat menolak perasaan rindunya yang membuat dia ingin selalu bertemu. Padahal bertemu pun merasa takut. Akh, seperti ini rasanya menhadapi mantan. Setiap pagi dia terbangun karena terkagetkan mimpinya. Mimpi yang setiap saat seolah-olah nyata. Membuat setiap kubik dalam dirinya terasa hampa. Karena setiap kubik darinya telah terisi oleh memori tentang Rio. Perjalanan itu entahlah sampai kapan berakhir. Ingin dia menyudahi sakit yang tak alang kepalang. Mimpi-mimpinya masih membentang. Keluarganya masih menunggu untuk dibahagiakan, atau setidaknya melihat dia sukses di masa depan. Jadi haruskah satu nama merusak semua yang telah dilaluinya dari balita?
Banyak orang berkata bahwa jika jodoh takkan kemana. Tapi yang dirasanya semua terlalu hampa. Benarkah waktu mampu merubah segalanya? Waktu mampu mengikis perasaan yang dalam itu kepada Rio? Dia terjebak dalam kerumitan pikirannnya sendiri. Tubuhnya kian kurus. Tapi memorinya mencoba mengingat-ingat berbagai peristiwa.
“Akh, Rio pun juga tambah kurus. Mungkinkah Rio juga merasakan hal yang sama. Lalu untuk apa sebenarnya perpisahan ini? Haruskah aku menjadi lebih berani seperti wanita-wanita perkasa untuk menyampaikan perasaanku? Memintanya kembali... Bodoh! Akh, ya... Itu hanya pikiran bodoh. Aku tak mungki melakukkannya. Bukan aku. Bukan sesuatu adiluhung yang diajarkan oleh keluargaku. Aku muak mungkin dengan perasaan ini. Tapi mungkin aku juga masih ingin menikmatinya. Akhhh, begitu rumitnya manusia. Begitu sempurnyanyakah Rio untukku?”
“Seandainya aku bisa menemukan akhir. Aku bisa membuka sebuah awal yang baru. Tapi bagaimana membuat akhir itu benar-benar ada. Aku tak benar-benar ingin berpisah dengan Rio. Kukaguminya. Mungkin sudah mulai mencintai kekurangnyya saat dia mulai bebicara keras. Saat dia mulai menunjukkan kelemahannya. Dan aku dengan perlahan menerimaku sebagai sesuatu yang tak sebanding. Manusia kerdil yang bodoh. Tak ada kecantikan, tak ada kepintaran, tak ada keindahan. “
Tapi tak bisa begitu. Masih beberapa purnama yang lalu Rio mengajaknya ke rumahnya. Memperkenalkannya dengan yang dia sebut mama. Wanita berumur sekitar 45 tahunan. Sedikit gemuk seperti kebanyakan ibu-ibu. Tanpa make up, rambutnya diurai namun tertahan oleh bandana hitam polos. Pipinya mulai menunjukkan kerutan dibagian bibir, namun masih putih bersih. Dia suka alisnya, tidak seperti dicukur namun rapi. Bibirnya juga melekuk indah tiap berbicara, juga tidak dipulas, tapi terlihat merah. Akh, yang seperti itu sudah cukup cantik baginya.
Yang membuat mama Rio semakin terlihat cantik di matanya karena mau menerimanya. Menyambutnya dengan senyum dan memuji. Seperti penyidik, wanita itu mulai menyakan segala sesuatu dalam kehidupannya, perihal pendidikan, keluarga, dan orang tua. Wanita itu  terus tersenyum, beberapa kali dia menyelibkan cerita kenakalan Rio setiap saat. Sejak kecil sampai saat ini. Semua cerita yang membuatnya semakin tersipu. Rio hanya menimpali “bukan aku” setiap saat itu dirasanya buruk, atau menepuk dada dengan senyum yang dipongah-pongahkan setiap mamanya memuji.
Namun suasana berubah, saat ayah Rio datang dengan keceriaan lalu menjadi diam dan berlalu begitu melihatnya. Tegang. Beku. Rio pun lagsung mengantarnya pulang. Itukah penyebabnya sebenarnya. Bukan gadis yang dicemburui yang membuat Rio memutuskan hubungan ini. Tapi ayah Rio  tak suka padanya. Bukankah ayah Rio belum mengenalnya? Kenapa tiba-tiba tak suka? Haruskah dia menanyakannya? Tapi tidak sopan, dia  bukan pacarnya lagi. Hanya temannya.
“Tapi sebenarnya hubungan ini belum berakhir bukan? Jadi tak apa aku menghubunginya dan menanyakan ini. Tapi aku takut Rio menjadi marah. Apa yang sebaiknya aku lakukakan Tuhan? Dunia-Mu yang luas kini menjadi penjara bagiku. Rio bukan untukku kah? Aku mau dia seperti dulu menemaniku setiap saat, memperhatikanku. Bukan begini, berhubungan dalam ketegangan. Melihatnya dengan yang lain tapi aku merasa dia masih sama saja. Masih milikku. Berilah akhir. Jangan-jangan sebenarnya kiamat juga bukan akhir. Berilah awal, beri akhir, jangan berbelit-belit. Jangan buat manusia-manusia membuat awal dan akhirnya sendiri-sendiri.”
“Cintaku harus jelas. Rio harus jelas. Aku butuh kejelasan. Aku ingin melanjutkan semua ini Tuhan. Apa aku marah pada-Mu? Oh, maafkan aku. Aku tak mungkin marah pada-Mu. Hanya beri kejelasan. Secarik coretan tak berguna dia antara buku misalnya, penggalan sebuah novel. Apapun yang dapat kujadikan petunjuk. Akh, apa aku sudah putus asa hanya karena cinta?”
Dia untuk ke sekian kali menyeka air matanya. Sebelumnya dia tak pernah secengeng ini. Kegilaannya mulai membuat dia mengobrak-abrik barang-barang yang mungkin memberi petunjuk. Berharap mendapat itu kiriman Tuhan. Buku harian dibacanya, setiap catatan diamati, foto-foto diperhatikan seksama. Fb yang mencurigakan dia periksa. Namun hasilnya nihil. Tersadar tindakan bodoh dan labil yang mengharap hidup adalah lukisan tenleeet-rumit tapi pasti, membuatnya sampai pada kedamaian diri.
“Hubungan itu sudah berakhir. Rio tak menginginkanku karena aku hidup jauh dalam khayalan yang kuanggap nyata. Aku tak dapat membedakan fantasi dan kenyataan. Sedang Liana...dia sangat realistis. Hidup dalam fantasi memang indah dengan sendirinya, namun bisa membuat perasaan sangat jengah.” Dia sadar dunia itu hanya miliknya. Dunia yang sangat luas yang tidak dapat digapai dengan kesadaran. Hanya alam bawah sadar yang dapat menunjukkan letaknya. Tak semua manusia dapat memasukinya dan ketika kamu asik di dalamnya sulit bagimu untuk keluar. Sebab di dalam sana adalah tempat seluruh jawaban anak-anak yang sudah mulai kaulupakan ketika beranjak dewasa. Di tempat itu filosofi dilahirkan. Di tempat itu bila tak mampu menggapai alam tiga dimensimu maka kamu akan terkurung dalam dimensi keempat di ruang dimensi ketiga. Di situlah awal dan akhir terselib, hanya belum mampu ditemukan. Jalanan adalah jalanan di setiap partikel yang ada di dunia ini.
SELESAI