Selasa, 01 Desember 2015

DENDAM PUNYA AGAMA

Angin membawa api berburu kenangan di matamu
Tangannya mengacungkan mesiu
Sementara di cermin matamu adalah tubuh-tubuh roboh
Tak kuat menjadi pondasi suara surau sederhana
Kini, kubah-kubah angkuh pada kuasa
Jubah-jubah diatasnamakan kesucian
Adat adalah dosa turunan
Yang padanya diceritakan dongeng-dongeng berinisial jalan kelam
Bahkan batu tak dapat menjawab pohon yang mencecarnya dengan tanya
Mengapa dunia yang kini dijubahi semakin bingar?
Aku rontok satu persatu
Bukannya cahaya pernah bercerita bahwa aura bumi berjubah menguat manakala sujud?
Mengapa kau diam manakala kuasa diammu dipecah jadi kepingan hiasan tanpa permisi?
Mungkin cahaya yang sampai sudah mati desismu
Kau sudah dieliminasi sebelum mencicip
Kudoakan kau tahan dibakar

Rupanya kau Tuhan anyar

Tidak ada komentar: