Minggu, 06 Desember 2015

MINGGU PERTAMA

Hai, kawan-kawan di seantero dunia...
Di sini mendung masih bergelayut di angkasa, mungkin beberapa jam lagi hujan turun. Para petani yang sedang panen jagung akan dibuat susah sebab, jagungnya tak kering-kering. Pedagang-pedagang kaki lima juga harus punya tenaga ekstra. Tak terkecuali saya dan faza (buka nama sebenarnya). 
"Why?"
Karena, kami sedang dalam proyek nekat (baca: memberanikan diri) dalam rangka menafkahi otak. Kami sedang berada dalam misi pembuatan novel duet. Potongan-potongan proses pembuatannya akan saya ceritakan pada kalian. Saya akan mengusahakan untuk membocorkan isi tiap babnya, alias gambaran umum yang kami buat acuan cerita.

Minggu ini adalah minggu pertama pertemuan sperma dan sel telur karena, minggu ini kami akan membuat cerita awalnya. Sebenarnya ini cerita klasik sih tapi, kami akan mengusahakan cerita yang berhasil dituliskan menjadi tidak klasik ketika dibaca nantinya. 

Minggu ini kami akan menceritakan 2 tokoh, satu cowok dan satu cewek yang sedang mengincar beasiswa penuh untuk masuk ke perguruan tinggi. Aku akan menceritakan kisah si cewek yang berasal dari keluarga fanatik, tidak berpunya, sangat baik moralnya, dan tinggal di desa. But, cewek ini sudah lelah hidup susah. Dia ingin kehidupan yang lebih baik. Berencana mendapatkan beasiswa untuk masuk fakultas yang diincarnya. Lalu menggaet cowok keren buat numpang hidup senang. Faza akan menceritakan si cowok yang berasal dari kalangan menengah yang juga mengingingkan beasiswa penuh. Kelak dia bakal masuk di fakultas tehnik yang kekurangan cewek. 

Yups,..di masa depan nanti mereka bakalan menjalin kasih, tapi tak semudah itu, tak secepat itu. Di awal bab ini mereka akan dihadapkan pada dunia baru. Beban menjadi mahasiswa berbeasiswa yang selama ini tidak mereka bayangkan. Teman-teman baru yang beraneka ragam. Teman-teman hedon. Teman-teman taat organisasi. Teman-teman yang kelewat islami. Teman-teman kutu buku. Begitu pun teman-teman yang suka TA (Titip Absen). Jauh dari orang tua, pada siapa mereka akan menambatkan pegangan baru? 

Hingar bingar kota menarik-narik untuk memasuki kamar-kamar karaoke, club, cafe, dan pusat-pusat perbelanjaan. Tugas-tugas dosen yang memaksakan beraneka bacaan dan buku-buku yang hanya ada di luar kota. Keradikalan anak-anak organisasi yang menarik-narik patriotisme membubarkan rapat DPR yang penuh bulshit lewat sepanduk dan teriakan. Akhi dan Ukhti yang tak lelah mengajak berhijrah. Identitas baaimana yang akan melekat padanya nanti. Kini dia mulai dianggap dewasa. Kata remaja tidak untuknya lagi. Jadi seperti apa jadinya dua tokoh ini? 

Kami akan menuliskannya seapik mungkin, sebisa kami. Kalian silahkan membayangkan. Hehehe
Bye... sampai jumpa di minggu depan. 

Sabtu, 05 Desember 2015

AWAL BERAKHIR



Bagaimana cara yang benar untuk mengawali sebuah cerita? Dia tak pernah tahu bagaimana caranya. Seperti dia tidak pernah tahu bagaimana mengawali sebuah cinta. Baginya tidak ada cerita bermula dari satu titik, karena semua titik itu bias. Semuanya adalah bagian dari titik lain. Titik yang hanya diketahui Tuhan, jika Tuhan itu ada. Dan dia mulai meragukan keberadaannya, karena semuanya sekarang hampa.
Bagaimana cinta? Perasaan itu, sebenarnya yang benar bagaimana? Sesuatu yang disebut cinta itu, dinamainya ganjil. Perasaan yang tak berketentuan, tak beralasan, tak bertujuan, dan tak berlogika. Begitulah dia selalu berpikir asal muasal cinta. Kedatangan yang tidak pernah diketahui muncul dan menyelinap dalam perasaan.
“Perasaan katanya letaknya di hati. Bukankah hati itu organ tubuh yang secara kasar dapat diartikan penyaring racun dalam tubuh itu sendiri. Bagaimana dia bisa dituduh sebagi yang paling bertanggungjawab atas semua itu?” Dia membalikkan badannya lagi. Tak hanya cetakan bulat dan basah di bantalnya. Sekarang bantal itu telah basah separuhnya. Berlembar-lembar tissu telah terpakai, mengoggok di sekitar tempat sampah ruangan di pojok kamar. Lemparan yang tidak tepat sasaran. Tapi, dia tidak bertenaga untuk membereskannya. Siapa sangka kekasihnya dulu pernah memberikan julukan panjang “Putri mungil keturunan manusia setengah dewa kebersihan pangkal dari segalanya”.
“Sekarang aku tak sebersih itu lagi. Aku tak tahu menamainya. Keruh sekali. Aku..., bagaimana...aku membersihkannya?” Lalu air matanya tumpah lagi, kali ini keluar bersama ingus yang langsung tertampung tissu yang tinggal beberapa lembar.
Malang. Sungguh malang nian. Kesedihan itu tak terperi. Yang membuatnya semakin pilu adalah ketakutannya. Dia tak tahu mengapa. Tapi Rio tiba-tiba menjadi sosok yang menakutkan. Seperti semua kesedihan karena dia, berawal darinya. Padahal dia tak tahu letak awal atau letak akhir. Bukannya hubungan itu juga belum berakhir dan tak pernah berawal.
Manis itu telah dirasa sejak semula, bukan sejak Rio mengatakan “Maukah kamu jadi pacarku?” Di puncak bromo pada liburan semester awal mereka. Entah sejak kapan bersama dengan Rio menjadi momen terindah. Dunia adalah keindahan.  Dunia diciptakan untuk keindahan yang membahagiakan. Memberi warna cerah dan semangat untuk hidup. Bromo, Bromo sangat indah. Tak ada yang tak mungkin, kala itu dia merasa dapat mencapai segalanya. Tapi bukankah sebelum kejadian itu dia juga bahagia? Dia pernah menghabiskan waktu bersama Rio di kawah Ijen, bermain seharian di Waterboom, nekat tiga hari liburan ke Bali naik motor, atau sekedar jalan-jalan di malam minggu menyaksikan sandiwara kehidupan.
Akh...betapa sekarang ini semua itu terasa amat menjengkelkannya. Semua kenangan sebelum kata cinta dikeluarkan telah menghabisi keberaniannya untuk mengingat ‘masa_jadian’  begitu orang menyebutnya. Dia tidak tahu bagaimana kesedihan bisa membuat dadanya begitu sesak. Megap-megap. Memeluk lutut sambil memegang dada. Rasanya ada yang terlepas di sana. Ada organ tubuhnya yang putus dan harus disambung, atau retak sehingga harus dilem. Dia merasa adegan itu lebih mirip orang yang sedang overdosis karena narkotika. Entahlah, entah kenapa pikirannya begitu rumit. Segalanya menjadi rancu di sana. Semuanya terlintas begitu saja. Tak bisa dikendalikan. Lalu mau apalagi? Mungkin dia menyerah. Tapi sekarang dia bangkit, bukan untuk mulai beranjak dari pilu melainkan berjalan sempoyongan ke arah almari persediaan. Mengambil satu roll tissu baru.
Sebelumnya dia tak percaya tingkah semacam ini bisa terjadi. Baginya itu terlalu khayal. Hanya imajinasi perfilman yang cari sensasi. Atau prosa yang cari perhatian pembaca. Cerita lebay. Cerita melankolis tingkat peri. Tapi sekarang dia tak menyangkalanya. Dia hanya ingin tahu letak awal, bagaimana itu sebuah awal. Seperti apa bentuk awal, karena dia harus menemukan akhir. Dia menginkan akhir. Jika memang awal dan akhir benar-benar ada.
Menurut kesepakatan masyarakat. Kalimat yang diucapkan Rio di depan kosku pada malam gerimis itu yang berbunyi  “Mungkin memang lebih baik kita putus. Kamu bisa cari cowo’ yang lebih baik dari aku. Kamu telah membuat aku menyadari bahwa Liana memang lebih baik dari kamu. Kamu membuatku tidak bisa menjauhinya lagi. Inikan yang kamu mau?”. Itu adalah akhir, akhir dari ‘masa­_jadian’. Tapi dia merasa itu bukan akhir. Ketika itu Rio mengatakan dengan mata lelah, wajahnya sayu. Dia yakin ada kegetiran di sana. Ada perasaan sakit yang tak bisa disembunyikan. Tapi mengapa dia memilih kalimat itu. Bukankah dia juga mengatakan masih mencintaiku? Berarti itu bukan akhir, tapi kenapa justru Liana teman sekelas Rio yang baru dikenal sebulan lalu? Lima tahun Rio mengenalnya dan itu belum cukup. Akh, kenapa dia harus kasihan pada Liana. Meminta Rio untuk tidak melukai perasaannya, padahal sekarang justru dia yang merasa terluka.
Kenyataannya itu bukanlah akhir, ya itu bukan sebuah akhir. Rio masih mengunjunginya, masih berkabar, masih menggunakan barang pemberiannya. Sama seperti dia yang masih memajang foto Rio di kamarnya dan di dompetnya. Lalu apakah itu sebuah akhir? Dia tak percaya itu akhir. Sebenarnya mungkin awal dan akhir tak pernah ada. Mungkin pula ada, tapi tak pernah berhasil diketahuinya. Perasaan cinta pasti menyusup perlahan dinamakannya suka, semakin dalam diubah sebutannya jadi sayang, dan ketika semakin dalam lagi dia menamainya cinta.
“Jadi cinta itu sangat indah bukan? Perasaan itu membuat kita seakan menjadi aktor utama dalam film Bollywood yang diiringi ratusan penari. Bunga-bunga bertaburan dari angkasa. Paving beton berubah jadi karpet merah kepresidenan. Jangan-jangan naik odong-odong serasa naik kereta kencana!” begitu Noona memetaforakan cinta saat sahabatnya jatuh cinta pada salah satu anggota kepolisian yang masih muda.
Tapi semua itu tetap tak menghibur. Dia merasa terlalu hampa. Dia takut. Dia kecewa. Dia menyesal telah mengenal iblis laknat. Jahannam. Jahannam. Fuck. Kampret. Tak tahu diri. Laki-laki buaya. Dia ingin mengkoyak tubuh Rio yang telah membuat perasaan seganjil demikian. Rio membuatnya yang tak pernah mudah percaya menjadi percaya sepenuhnya. Rio membuatnya yang tak pernah mau mendalami rasa menjadi berkorban sedemikian. Tapi begini balasannya. Gak punya moral. Cinta dan benci tipis bedanya. Sama-sama gak berawal dan tidak diketahui dimana akhirnya. Atau hanya dia saja yang tak mengetahuinya?
Bagaimana kemudian dia harus menghadapi ini? Sebenci-bencinya dengan Rio dia masih menyimpan perasaan yang sama. Masih menyanyanginya, masih ingin menyenangkannya. Dia dapat mengolok-olok Rio tapi tak dapat menolak perasaan rindunya yang membuat dia ingin selalu bertemu. Padahal bertemu pun merasa takut. Akh, seperti ini rasanya menhadapi mantan. Setiap pagi dia terbangun karena terkagetkan mimpinya. Mimpi yang setiap saat seolah-olah nyata. Membuat setiap kubik dalam dirinya terasa hampa. Karena setiap kubik darinya telah terisi oleh memori tentang Rio. Perjalanan itu entahlah sampai kapan berakhir. Ingin dia menyudahi sakit yang tak alang kepalang. Mimpi-mimpinya masih membentang. Keluarganya masih menunggu untuk dibahagiakan, atau setidaknya melihat dia sukses di masa depan. Jadi haruskah satu nama merusak semua yang telah dilaluinya dari balita?
Banyak orang berkata bahwa jika jodoh takkan kemana. Tapi yang dirasanya semua terlalu hampa. Benarkah waktu mampu merubah segalanya? Waktu mampu mengikis perasaan yang dalam itu kepada Rio? Dia terjebak dalam kerumitan pikirannnya sendiri. Tubuhnya kian kurus. Tapi memorinya mencoba mengingat-ingat berbagai peristiwa.
“Akh, Rio pun juga tambah kurus. Mungkinkah Rio juga merasakan hal yang sama. Lalu untuk apa sebenarnya perpisahan ini? Haruskah aku menjadi lebih berani seperti wanita-wanita perkasa untuk menyampaikan perasaanku? Memintanya kembali... Bodoh! Akh, ya... Itu hanya pikiran bodoh. Aku tak mungki melakukkannya. Bukan aku. Bukan sesuatu adiluhung yang diajarkan oleh keluargaku. Aku muak mungkin dengan perasaan ini. Tapi mungkin aku juga masih ingin menikmatinya. Akhhh, begitu rumitnya manusia. Begitu sempurnyanyakah Rio untukku?”
“Seandainya aku bisa menemukan akhir. Aku bisa membuka sebuah awal yang baru. Tapi bagaimana membuat akhir itu benar-benar ada. Aku tak benar-benar ingin berpisah dengan Rio. Kukaguminya. Mungkin sudah mulai mencintai kekurangnyya saat dia mulai bebicara keras. Saat dia mulai menunjukkan kelemahannya. Dan aku dengan perlahan menerimaku sebagai sesuatu yang tak sebanding. Manusia kerdil yang bodoh. Tak ada kecantikan, tak ada kepintaran, tak ada keindahan. “
Tapi tak bisa begitu. Masih beberapa purnama yang lalu Rio mengajaknya ke rumahnya. Memperkenalkannya dengan yang dia sebut mama. Wanita berumur sekitar 45 tahunan. Sedikit gemuk seperti kebanyakan ibu-ibu. Tanpa make up, rambutnya diurai namun tertahan oleh bandana hitam polos. Pipinya mulai menunjukkan kerutan dibagian bibir, namun masih putih bersih. Dia suka alisnya, tidak seperti dicukur namun rapi. Bibirnya juga melekuk indah tiap berbicara, juga tidak dipulas, tapi terlihat merah. Akh, yang seperti itu sudah cukup cantik baginya.
Yang membuat mama Rio semakin terlihat cantik di matanya karena mau menerimanya. Menyambutnya dengan senyum dan memuji. Seperti penyidik, wanita itu mulai menyakan segala sesuatu dalam kehidupannya, perihal pendidikan, keluarga, dan orang tua. Wanita itu  terus tersenyum, beberapa kali dia menyelibkan cerita kenakalan Rio setiap saat. Sejak kecil sampai saat ini. Semua cerita yang membuatnya semakin tersipu. Rio hanya menimpali “bukan aku” setiap saat itu dirasanya buruk, atau menepuk dada dengan senyum yang dipongah-pongahkan setiap mamanya memuji.
Namun suasana berubah, saat ayah Rio datang dengan keceriaan lalu menjadi diam dan berlalu begitu melihatnya. Tegang. Beku. Rio pun lagsung mengantarnya pulang. Itukah penyebabnya sebenarnya. Bukan gadis yang dicemburui yang membuat Rio memutuskan hubungan ini. Tapi ayah Rio  tak suka padanya. Bukankah ayah Rio belum mengenalnya? Kenapa tiba-tiba tak suka? Haruskah dia menanyakannya? Tapi tidak sopan, dia  bukan pacarnya lagi. Hanya temannya.
“Tapi sebenarnya hubungan ini belum berakhir bukan? Jadi tak apa aku menghubunginya dan menanyakan ini. Tapi aku takut Rio menjadi marah. Apa yang sebaiknya aku lakukakan Tuhan? Dunia-Mu yang luas kini menjadi penjara bagiku. Rio bukan untukku kah? Aku mau dia seperti dulu menemaniku setiap saat, memperhatikanku. Bukan begini, berhubungan dalam ketegangan. Melihatnya dengan yang lain tapi aku merasa dia masih sama saja. Masih milikku. Berilah akhir. Jangan-jangan sebenarnya kiamat juga bukan akhir. Berilah awal, beri akhir, jangan berbelit-belit. Jangan buat manusia-manusia membuat awal dan akhirnya sendiri-sendiri.”
“Cintaku harus jelas. Rio harus jelas. Aku butuh kejelasan. Aku ingin melanjutkan semua ini Tuhan. Apa aku marah pada-Mu? Oh, maafkan aku. Aku tak mungkin marah pada-Mu. Hanya beri kejelasan. Secarik coretan tak berguna dia antara buku misalnya, penggalan sebuah novel. Apapun yang dapat kujadikan petunjuk. Akh, apa aku sudah putus asa hanya karena cinta?”
Dia untuk ke sekian kali menyeka air matanya. Sebelumnya dia tak pernah secengeng ini. Kegilaannya mulai membuat dia mengobrak-abrik barang-barang yang mungkin memberi petunjuk. Berharap mendapat itu kiriman Tuhan. Buku harian dibacanya, setiap catatan diamati, foto-foto diperhatikan seksama. Fb yang mencurigakan dia periksa. Namun hasilnya nihil. Tersadar tindakan bodoh dan labil yang mengharap hidup adalah lukisan tenleeet-rumit tapi pasti, membuatnya sampai pada kedamaian diri.
“Hubungan itu sudah berakhir. Rio tak menginginkanku karena aku hidup jauh dalam khayalan yang kuanggap nyata. Aku tak dapat membedakan fantasi dan kenyataan. Sedang Liana...dia sangat realistis. Hidup dalam fantasi memang indah dengan sendirinya, namun bisa membuat perasaan sangat jengah.” Dia sadar dunia itu hanya miliknya. Dunia yang sangat luas yang tidak dapat digapai dengan kesadaran. Hanya alam bawah sadar yang dapat menunjukkan letaknya. Tak semua manusia dapat memasukinya dan ketika kamu asik di dalamnya sulit bagimu untuk keluar. Sebab di dalam sana adalah tempat seluruh jawaban anak-anak yang sudah mulai kaulupakan ketika beranjak dewasa. Di tempat itu filosofi dilahirkan. Di tempat itu bila tak mampu menggapai alam tiga dimensimu maka kamu akan terkurung dalam dimensi keempat di ruang dimensi ketiga. Di situlah awal dan akhir terselib, hanya belum mampu ditemukan. Jalanan adalah jalanan di setiap partikel yang ada di dunia ini.
SELESAI

Rabu, 02 Desember 2015

BEREBUT WAKTU


Berlalu selalu saja memeluk tanpa permisi
Mengecupkan sisa yang lebih sedikit
Sepejam gelap, tahun luruh sebulan-sebulan
Menikung hari sebelum cahaya sampai
Ada kuasa-Nya di gemuruh dada-dada
Memompa api ke telinga, ke mata, ke mulut
Membakar penyebut nama-Nya lewat seribu beda
Ada badai kuasa-kuasa
Memompa api ke telinga, ke mata, ke mulut
Merobek kebesan dalam baris bendera-bendera
Ada banjir dan longsor angka-angka
Memompa api ke telinga, ke mata, ke mulut
Menimbun dengan hitungan maya
Berlalu tak peduli waktu mencintainya dengan seluruh yang dipunya
Dia hanya mencintai luruh

PARODI PENGEMIS



Malam itu udara terayun-ayun oleh angin yang mabuk sebotol arak oplosan
Menabrak kulit siapa saja yang terpapar malam
Pak tua yang sesiang tadi menengadahkan tangan menangkisnya dengan selembar koran
Di kursi tunggu terminal ia menekuk lutut
Giginya gemelutuk menahan amarah
Tuhannya lebih dekat dari nadi
Tapi belati musuh di nadinya lebih terasa
Pak tua mendesis, mengusir musuh yang tiada gentar, si lapar
Pak tua menggerangkan permohonan, tiada yang datang
Di sisa tenaganya dicengkeramnya lapar
Hendak di lempar sejauh ajal
Nyatanya lapar lebih pintar
Ajal memeluknya untuk memuja lapar

Flash kamera tiada henti menontoninya
Mencerca tubuh kaku Pak tua dengan semua tanya
Satelit tertawa oleh kenyangnya parodi
Tikus-tikus listrik tergenjet tiada henti

Tubuh kaku Pak tua terbaring di ruang putih
Dikelilingi orang-orang berjubah putih
Diburaikan demi gelar-gelar dan paten-paten yang tak pernah ia dengar

Tuhannya lebih dekat dari nadi
Sedang nadi Pak Tua sudah tak berdenyut lagi

Tikus-tikus listrik itu masih tergencet tiada henti

Jember, 29 November 2015
Mengingat pengemis tua yang mati kedinginan dan kelaparan di terminal tawang alun Jember tanpa identitas.

Selasa, 01 Desember 2015

DENDAM PUNYA AGAMA

Angin membawa api berburu kenangan di matamu
Tangannya mengacungkan mesiu
Sementara di cermin matamu adalah tubuh-tubuh roboh
Tak kuat menjadi pondasi suara surau sederhana
Kini, kubah-kubah angkuh pada kuasa
Jubah-jubah diatasnamakan kesucian
Adat adalah dosa turunan
Yang padanya diceritakan dongeng-dongeng berinisial jalan kelam
Bahkan batu tak dapat menjawab pohon yang mencecarnya dengan tanya
Mengapa dunia yang kini dijubahi semakin bingar?
Aku rontok satu persatu
Bukannya cahaya pernah bercerita bahwa aura bumi berjubah menguat manakala sujud?
Mengapa kau diam manakala kuasa diammu dipecah jadi kepingan hiasan tanpa permisi?
Mungkin cahaya yang sampai sudah mati desismu
Kau sudah dieliminasi sebelum mencicip
Kudoakan kau tahan dibakar

Rupanya kau Tuhan anyar